Aku mencoba menutup mata sambil berjalan menapaki pantai pasir putih yang terhampar luas dihadapanku. Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. tiada seorangpun di pulau itu. hanya ada aku, ditemani oleh tarian gemulai dedaunan yang berdansa bersama sang angin dengan begitu lincahnya. Lautan biru yang terhampar luas dan buih-buihnya menemani setiap jejak langkahku. Bebas. Aku merasa bebas disini. bebas dari kejenuhan yang tertuliskan dalam setiap lembar demilembar kitab agenda yang selalu menemaniku. Kuayunkan kakiku sambil tersenyum menikmati keindahan yang masih diijinkanNya untuk kunikmati. Tuhan, aku merindukan mereka. orang-orang yang kikasihi. Bagaimana kondisi mereka? Apa kabar mereka disana? Apakah mereka baik-baik saja? Tuhan, sebuah anugrah yang tiada tara bagiku untuk menjadi bagian dari mereka. Mereka memberiku cinta yang tiada berbalas, tanpa pamrih dan tekun mendidikku. Setiap langkah demi langkah aku mulai mengingat kembali setiap kenangan-kenangan yang telah kulewati bersama mereka. Senyumku kembali merekah. Fajar semakin menyingsing menemani langit biru. Satu-demi satu awan hitam terceraiberaikan. Aku menarik nafasku sedalam-dalamnya namun tiba-tiba aku merasakan sebuah emosi yang terpendam. Ya. Emosi itu bersembunyi dalam hatiku. Detakan jantungku semakin cepat. Apakah ini rasanya.... Ah. Itu hanya perasaanku. Aku berjalan kembali menyusuri pantai itu namun terus terfikir tentang emosi itu. Kuhentikan langkahku lalu duduk di hamparan pasir yang tersapu buih-buih putih samudra. Kupandang samudra yang terhampar luas dihadapanku dan kudapatkan satu hal. Aku masih memikirnyannya. Ya. Dia. Dia yang saat pertemuan terakhir memeluk bahuku dan mengatakan "adikku...". Kubuka kembali kotak memori dalam pikiranku. mengingat saat-saat dimana semuanya terlihat begitu ceria dalam dunia. Dia begitu lucu dan supel walau hanya beberapa hari. "I'll be missing him..." kataku. Aku berharap dapat bertemu dengannya di waktu-waktu yang akan datang dalam hidupku namun bila Tuhan yang menginginkan hal itu. "No, no no.... lupakan dia!" kata sisi hatiku yang lain. "Lupakan! Fokuslah pada apa yang kau kerjakan saat ini. Dia bukan utukmu!". Aku hanya tertegun, diam seribu bahasa memandang kembali hamparan samudra biru keemasan yang terpantul oleh cahaya mentari pagi. Beberapa saat berlalu, aku berdiri kembali berjalan. Saat-saat seperti ini yang kubutuhkan adalah hikmatNya. Aku tersenyum kembali dan berada dalam suatu kesimpulan. Tidak semua hal penting untuk difikirkan. Tentang dia? Aku percaya Tuhan yang mengetahui apa yang paling terbaik untukku daripada diriku sendiri. "God, I surrender in Your Hand. jadilah kehendakMu". Wajah semua orang-orang yang kini kubimbing satu per satu terngiang dalam pikiranku. Ya, sudah saatnya aku harus mengembangkan dan menjadi berkat untuk orang lain. Adalah suatu kebahagiaan tersendiri saat melihat orang yang kau bimbing dapat menjadi orang yang lebih baik.Rasanya semua kelelahanmu tiada artinya lagi.
Hari yang indah. Hanya ada aku yang tersenyum mendengarkan kidung pujian pagi atas kebesaranNya. Without You, I'm nothing.
Diam
-
Kutemukan kembali bagian hati yang retak Kepada siapa aku harus bercerita?
hanya ada aku dan diam. Hati dengan kebencian, kesedihan, keterpurukan,
kepahita...
1 bulan yang lalu

