Minggu, 08 November 2009

Di suatu pagi....

Aku mencoba menutup mata sambil berjalan menapaki pantai pasir putih yang terhampar luas dihadapanku. Waktu masih menunjukkan pukul 05.00 pagi. tiada seorangpun di pulau itu. hanya ada aku, ditemani oleh tarian gemulai dedaunan yang berdansa bersama sang angin dengan begitu lincahnya. Lautan biru yang terhampar luas dan buih-buihnya menemani setiap jejak langkahku. Bebas. Aku merasa bebas disini. bebas dari kejenuhan yang tertuliskan dalam setiap lembar demilembar kitab agenda yang selalu menemaniku. Kuayunkan kakiku sambil tersenyum menikmati keindahan yang masih diijinkanNya untuk kunikmati. Tuhan, aku merindukan mereka. orang-orang yang kikasihi. Bagaimana kondisi mereka? Apa kabar mereka disana? Apakah mereka baik-baik saja? Tuhan, sebuah anugrah yang tiada tara bagiku untuk menjadi bagian dari mereka. Mereka memberiku cinta yang tiada berbalas, tanpa pamrih dan tekun mendidikku. Setiap langkah demi langkah aku mulai mengingat kembali setiap kenangan-kenangan yang telah kulewati bersama mereka. Senyumku kembali merekah. Fajar semakin menyingsing menemani langit biru. Satu-demi satu awan hitam terceraiberaikan. Aku menarik nafasku sedalam-dalamnya namun tiba-tiba aku merasakan sebuah emosi yang terpendam. Ya. Emosi itu bersembunyi dalam hatiku. Detakan jantungku semakin cepat. Apakah ini rasanya.... Ah. Itu hanya perasaanku. Aku berjalan kembali menyusuri pantai itu namun terus terfikir tentang emosi itu. Kuhentikan langkahku lalu duduk di hamparan pasir yang tersapu buih-buih putih samudra. Kupandang samudra yang terhampar luas dihadapanku dan kudapatkan satu hal. Aku masih memikirnyannya. Ya. Dia. Dia yang saat pertemuan terakhir memeluk bahuku dan mengatakan "adikku...". Kubuka kembali kotak memori dalam pikiranku. mengingat saat-saat dimana semuanya terlihat begitu ceria dalam dunia. Dia begitu lucu dan supel walau hanya beberapa hari. "I'll be missing him..." kataku. Aku berharap dapat bertemu dengannya di waktu-waktu yang akan datang dalam hidupku namun bila Tuhan yang menginginkan hal itu. "No, no no.... lupakan dia!" kata sisi hatiku yang lain. "Lupakan! Fokuslah pada apa yang kau kerjakan saat ini. Dia bukan utukmu!". Aku hanya tertegun, diam seribu bahasa memandang kembali hamparan samudra biru keemasan yang terpantul oleh cahaya mentari pagi. Beberapa saat berlalu, aku berdiri kembali berjalan. Saat-saat seperti ini yang kubutuhkan adalah hikmatNya. Aku tersenyum kembali dan berada dalam suatu kesimpulan. Tidak semua hal penting untuk difikirkan. Tentang dia? Aku percaya Tuhan yang mengetahui apa yang paling terbaik untukku daripada diriku sendiri. "God, I surrender in Your Hand. jadilah kehendakMu". Wajah semua orang-orang yang kini kubimbing satu per satu terngiang dalam pikiranku. Ya, sudah saatnya aku harus mengembangkan dan menjadi berkat untuk orang lain. Adalah suatu kebahagiaan tersendiri saat melihat orang yang kau bimbing dapat menjadi orang yang lebih baik.Rasanya semua kelelahanmu tiada artinya lagi.
Hari yang indah. Hanya ada aku yang tersenyum mendengarkan kidung pujian pagi atas kebesaranNya. Without You, I'm nothing.

Minggu, 25 Oktober 2009

Hufh....

aku tidak dapat melihat bagaimana diriku pada 10 tahun ke depan. yang bisa kulakukan adalah memplanningkan hidupku, menjalani hidupku sebaik mungkin pada masa kini dan melakukan yang terbaik dalam setiap tugas dan tanggung jawabku.

Sabtu, 10 Oktober 2009

Pengujian Hati

Inilah saat dimana aku tidak dapat mempercayai siapapun. Tahukah kamu? bahwa aku hanya tersenyum. Namun aku menyimpan segala sesuatunya didalam hatiku. Malam yang semakin pekat tak dapat membuatku menangis malam ini.
Pengujian hati. Akan membuatmu merasa memerlukanNya untuk menyelesaikan semua ini. Membereskan seluruh hal yang tersembunyi,menghilangkan semua perasaan yang mengganggu pikiranmu, berharap esok engkau akan membuka matamu dan mereka tidak akan pernah lagi terlihat. Pengujian hati ini rasanya membunuh ragaku. Ketidak tenangan bercampur aduk dan kini aku tidak dapat menutup mata!

Aku mau melepaskan mereka, Tuhan....
dia, dia dan dia... ambil mereka dariku sekarang juga
jangan biarkan ada kenangan mereka yang tersisa
jangan biarkan mereka terus-menerus bermain di kepalaku

Yang kuinginkan hanyalah keheningan jiwa dalam balutan tanganNya.

Jumat, 09 Oktober 2009

Promise and Dream

Tak terasa pagi telah datang menjenguk di jendela kamar kostku. Kulihat jam yang terus berdetak kini telah menunjuk pada pukul 04.30 am. Udara yang sejuk menerpa tubuhku. Pagi ini begitu indah Tuhan… aku terpesona menikmatinya. Kicauan burung pipit dipagi hari merekahkan semangatku untuk menapaki hari ini. jiwa dan ragaku rasanya pulih dari keterpurukan pikiranku. Begitu indah, begitu indah untuk dirasakan hanya dengan logika dan rasionalku. Sejenak kutinggalkan semua agendaku yang menumpuk dan berdiam diri sejenak.

Aku melangkah, duduk di depan komputerku. Membuka halaman facebook dan melihat beberapa update dari beberapa teman-temanku. Lalu entah mengapa aku memiliki keinginan yang kuat untuk membuka halaman facebook dari beberapa sahabat-sahabatku dari masa SMA. Awalnya hanya iseng. Tapi setelah kulihat dengan cermat ternyata banyak sekali perubahan dari kami masing-masing. Entah dari pengetahuan, penampilan, gaya bahasa, dll. Aku teringat saat kami bersama menghadapi soal-soal hitungan fisika, kimia, matematika yang sulit… Belajar kelompok untuk bisa lulus UAS… berbagi tempat duduk setiap hari di dalam bus sekolah… Proses-proses yang telah kami lalui kini membuat kami menjadi orang yang lebih baik dan terus bertumbuh lebih matang.
Aku kembali teringat masa dimana kami harus berpisah saat kelulusan SMA. Sebuah janji yang masih terngiang dalam kepalaku. “nanti, biar aku yang ngajarin mereka musik. Biar nanti sekolahnya dibangun di tanahku saja… aku punya lahan kosong di kampung…” kataku. “Sip. nanti aku yang ajarin mereka fisika, biologi dan kimia” kata sahabatku. Kata-kata itu kembali terngiang dalam ruang kepalaku. Bahkan kami sempat berpikir seperti apa nanti sistem seleksinya, perekritan anak-anaknya, profesor siapa saja yang akan diundang untuk mengajar, kurikulumnya, dll. Semangat dan spirit yang pada saat itu kinimengingatkanku kembali. Kembali untuk mengembangkan orang lain yang kini jauh dalam pandangan mataku.
Kami mempunyai impian bersama untuk membangun sebuah sekolah untuk anak-anak Papua yang tujuannya untuk mendidik dan membimbing mereka menjadi anak-anak yang kuat dalam pengetahuan dan siap bersaing demi mencapai masa depan yang lebih cerah di kemudian hari. Setelah berkembangnya waktu dalam lingkungan perkuliahanku, aku mempunyai gagasan baru. Sekolah ini akan memberikan pertumbuhan secara holistik untuk anak-anak Papua. Tak terasa. Dua tahun lebih kami telah berpisah. Namun impian itu terus ada dalam hatiku dan memberikanku semangat untuk tidak pernah menyerah.

Aku mengerti. Impian tanpa perencanaan adalah sia-sia. Karena itu kini, saatnya mempersiapkan diri untuk meraih impian tersebut. Sekarang kami semua sibuk dengan kuliah di jurusan kami masing-masing. Aku di Ilmu komunikasi, mereka di jurusan kedokteran. Terpisah antar daerah ke daerah yang lainnya. Kini aku merindukan mereka. Orang-orang yang pernah masuk dalam kehidupanku dan akan terus tetap berada dalam hatiku. Akankah sekolah impian kami dapat berdiri nantinya? Aku tidak dapat melihat hari esok. namun satu hal yang kupegang dalam hatiku bahwa bila impian kami adalah impiannya Tuhan, maka hal itu bisa terjadi. Hanya, persiapkanlah diri dari sekarang.

Senin, 21 September 2009

LOVE IS SUCKS?

Beberapa hari ini aku bertemu dengan beberapa temanku yang semakin sering mengatakan "Love is sucks..." di telingaku. Sempat rasanya gag nyaman dan akupun gag setuju dengan apa yang mereka katakan. Hal ini bukan karena aku merasakan bahwa cerita cintaku itu baik danmulus. Bahkan sampai gua umur 20 tahun ini aja aku belum pacaran. Hohohoho... suatu kebanggaan bisa menjaga status single selama 20 tahun. Kebanyakan dari mereka sih memang "kepahitan" dengan love life mereka. Hufh... semakin banyak kulihat orang yang kepahitan atas nama cinta.
Padahal sebenarnya esensi dari cinta itu adalah pengorbanan. Hanya ada 1 cinta sejati yang dapat kita temukan dalam Tuhan. Love is God, God is Love!